Friday, 10 July 2015
Short Story Analysis
A Clean, Well Lighted Place
by Ernest Hemingway
INTRINSIC ELEMENTS
Characterization1. The Major Characters
- The Old Man
- The Older Waiter
- The Younger Waiter
2. The Minor Characters
- The Girl
- The Soldier
- The Bartender
Characteristics
- The Old Man
A deaf man who likes to drink at the café late into the night. The old man likes the shadows of the leaves on the well-lit café terrace. Rumored to end his life but his niece safe him. He was once married, he has a lot of money, and his niece takes care of him. He often gets drunk at the café and leaves without paying. (More: Sparknotes)
- The Older Waiter
Just like the old man, he is lonely and likes to stay in the cafe more longer in the night. He also afraid if in the future he will be like the old man, surrounding by loneliness. He may feel lonely but he also afraid of something like nothingness, not to the death he was afraid of. (More: Sparknotes)
- The Younger Waiter
An impatient man who have a wife and care so much about his wife. He shows his manner which is impatient to the old man because he want to get home and he didn't like to work up late. He doesn't care much about the old man who want to drink more although the older waiter have remind him to serve the old man. But he refuses and only concern to leave as quickly as possible because his wife is waiting at home.
The Setting
- Setting of Place
In the Cafe :"It was very late and everyone had left the cafe except an old man who sat in the shadow the leaves of the tree made against the electric light."
- Setting of Time
At late night: "...and now at night it was quiet and he felt the difference."
Themes
Loneliness
The theme of the short story is loneliness. As it represented by The Old Man and The Older Waiter, they don't have someone to share with, and someone to talk to. The Older Waiter is exquisitely afraid if he will be like the old man in the future. But the cafe which described as "a clean, well lighted place" is the opposite of the loneliness because it is quite impossible to see the cafe is empty, that is why the Old Man and The Older Waiter like to stay longer. The cafe also symbolized as a place where they can feel safe because its tidiness and its cleanness.
Wednesday, 10 June 2015
Psychology of Literature
ANALISIS TEORI PSIKOANALISIS SIGMUND FREUD DALAM KARYA ERNEST HEMINGWAY “OLD MAN AT THE BRIDGE”
SINOPSIS
Cerita pendek "Old Man at The Brigde" yang
ditulis oleh Ernest Hemingway adalah tentang percakapan antara seorang prajurit
dan seorang pria tua yang harus meninggalkan kampung halamannya selama Perang
Saudara Spanyol. Latar cerita ini mengambil tempat di sebuah jembatan ponton dekat
Ebro Delta pada hari Minggu Paskah selama perang sipil.
Cerita diawali dengan seorang prajurit yang bertugas
untuk mengecek keadaan jembatan untuk memastikan seberapa dekat musuh akan datang
dan melihat seorang pria tua duduk di jembatan. Ia berpikir bahwa pria tua itu
hanya ingin beristirahat, namun setelah kembali ia menemukan pria tua itu masih
duduk disana tak bergerak.
Ia kemudian menghampiri pria tua itu dan memulai
percakapan dengan pertanyaan sepele: "Where
do you come from?". Orang tua tujuh
puluh enam tahun, yang memakai "steel
rimmed spectacles” and “very dusty
clothes” berasal dari San Carlos. Ketika si tokoh “Aku” atau si prajurit
mengajaknya bicara, awalnya tampak tidak tertarik pada pria tua itu. Kemudian
si prajurit mengajukan beberapa pertanyaan lagi dan pria tua mulai berbicara
tentang kehidupannya yang berorientasi tentang hewan peliharannya. Dia memiliki
dua ekor kambing, kucing, dan beberapa merpati yang ia harus tinggalkan karena adanya
pasukan artileri. Pria tua itu mengulang kalimat "I was taking care of animals," berkali-kali.
Dia adalah orang tua tanpa politik dan tidak
memiliki keluarga, sehingga seluruh hidupnya hanya dipusatkan pada hewan yang
dipeliharanya dan kampung halamannya. Pria itu menjelaskan bahwa ia tidak
khawatir kepada kucingnya karena kucing adalah binatang independen yang bisa
hidup sendiri. Kemudian pria tua itu juga tidak khawatir dengan burung-burung
merpatinya karena burung merpati bisa terbang mencari kebebasan. Kemudian pria
tua itu berkali-kali mengucapkan “but the
others.” Yang dimaksudkan pria tua adalah kedua kambingnya.
Pria tua itu sudah tidak memiliki apapun yang
tersisa, ia digambarkan sebagai "kosong"dan "lelah". Bahkan
setelah tentara menyarankan dia untuk melarikan diri secepat mungkin, orang tua
tidak bergerak. Si prajurit akhirnya menyerah dengan pria tua itu dengan
kalimat: "There was nothing to do
about him”.
LANDASAN TEORI
Menurut
Freud, kehidupan jiwa memiliki tiga tingkatan kesadaran, yakni sadar (conscious), prasadar (preconscious) dan tak sadar (unconscious). Konsep dari teori Freud
yang paling terkenal adalah adanya alam bawah sadar yang mengendalikan sebagian
besar perilaku dan perilaku manusia didasari pada hasrat seksualitas
(eros/libido/insting kehidupan) sejak kecil. Di samping insting hidup atau
eros, Freud juga mengungkapkan adanya insting
kematian/thanatos/destrudo.
Dalam
penulisan essay ini, ada beberapa teori yang akan digunakan untuk menganalisis
karya sastra berupa cerita pendek dari Ernest Hemingway. Secara keseluruhan
akan dibahas teori psikoanalisis dari Sigmund Freud yaitu kecemasan.
1.
Kecemasan Menurut Freud
Freud
membagi kecemasan menjadi tiga, yaitu:
Menurut
Freud, kehidupan jiwa memiliki tiga tingkat kesadaran, yakni sadar (conscious),
prasadar (preconscious), dan tak sadar (unconscious).
PEMBAHASAN
Dalam cerita
pendek Ernest Hemingway ini menggunakan banyak metafora dan simbol. Salah satu
simbol adalah jembatan, yang mewakili ketidakpastian dan bahaya. Selain itu
adalah merpati, mewakili perdamaian dan harmoni dan fakta bahwa mereka terbang
jauh, jauh dari perang, mungkin adalah referensi kepada para pengungsi yang
melarikan diri dari perang ke tempat yang lebih aman. Kucing menjadi simbol
kemerdekaan, tidak perlu siapa pun untuk bertahan hidup. Tetapi kambing sering
digunakan sebagai hewan kurban dan ini mungkin merupakan orang tua dan
situasinya. Seperti kambing yang dikorbankan, nasib orang tua itu disegel.
Cerita diawali
dengan penggarambaran keadaan dimana pria tua itu sedang berhenti di jembatan
panton menggunakan pakaian yang kotor penuh debu dan kacamata berlensa baja. Si
prajurit melihat pria tua itu duduk tidak bergerak karena ia terlalu lelah
setelah perjalanan jauh, dan si prajurit berpikir bahwa pria tua sudah tidak bisa
pergi kemanapun karena kelelahan.
Awalnya si
prajurit tidak peduli dengan kehadiran pria tua itu, karena tugasnya hanyalah
melewati jembatan untuk mengecek seberapa dekat musuh yang akan datang. Ia
melewati jembatan dan kemudian kembali lagi untuk menemukan bahwa pria tua itu
masih duduk disana. Akhirnya si prajurit mengajukan pertanyaan kepada pria tua darimana
pria itu berasal. Ketika pria tua menjawab ia berasal dari San Carlos, ia
tersenyum.
Melalui tulisan
narrator, si prajurit berpikir bahwa pria itu bangga untuk menyebutkan dari
mana ia berasal karena itu merupakan sebuah kebanggaan. “That was his native town and so it gave him pleasure to mention it and
he smiled”
Kecemasan yang
sedang dirasakan pria tua itu terjadi ketika pria tua berkata “I was taking care of animals”. Ia
mengucapkannya tanpa ditanya oleh prajurit. Namun si prajurit menjawabnya
dengan ala kadar karena si prajurit tidak benar-benar mengerti mengapa pria tua
berkata seperti itu kepadanya.
Ketika pria tua
itu mengucapkan kalimat: “but thank you
very much. Thank you again verymuch” hal ini menyiratkan bahwa mungkin itu
adalah kontak pertama dan percakapan dengan orang lain untuk waktu yang lama
dan ia senang bahwa seseorang tertarik pada dirinya dan kekhawatirannya.
Biasanya
individu dengan kata hati yang kuat dan puritan akan mengalami konfllik yang
lebih hebat daripada individu yang mempunyai kondisi toleransi moral yang lebih
longgar. Seperti kecemasan neurosis, kecemasan moral juga mempunyai dasar dalam
kehidupan nyata. Anak-anak akan dihukum bila melanggar aturan yang ditetapkan
orang tua mereka. Orang dewasa juga akan mendapatkan hukuman jika melanggar
norma yang ada di masyarakat. Rasa malu dan perasaan bersalah menyertai
kecemasan moral. Dapat dikatakan bahwa yang menyebabkan kecemasan adalah kata
hati individu itu sendiri. Freud mengatakan bahwa superego dapat memberikan
balasan yang setimpal karena pelanggaran terhadap aturan moral.
Individu juga
dapat mengikuti kata hatinya. Atau jika tidak ada teknik rasional yang bekerja,
individu dapat memakai mekanisme pertahanan (defence mechanism) yang
non-rasional untuk mempertahankan ego.
DAFTAR
PUSTAKA
Eagleton,
Terry. 2006. Teori Sastra Sebuah
Pengantar Komprehensif. Terjemahan Harfiyah Widiawati dan Evi Setyorini.Yogjakarta:
Jalasutra.
Endraswara,
Suwardi. 2008. Metode Penelitian
Psikologi Sastra. Yogjakarta: Media Pressindo.
Subscribe to:
Comments (Atom)